Kamis, 15 Juni 2017



Sore ini cuaca nampak muram. Semilir angin berhembus halus membelai pepohonan. Semua hening, ketenangan menyelimuti dari balik jeritan isak tangis yang teriring.
Aku terbangun diantara keramaian, diantara orang tuaku, sanak saudara dan teman-teman baikku. Aku mencoba berseru namun tak ada yang mampu menjawab bahkan mendengar. Semua seperti membisu dibalik tanda tanya dikepalaku. Dimanakah keberadaan diriku sekarang?
Terkaget melihat tubuhku terbaring kaku dan pucat dihadapan ibuku. tangan halusnya membelai lembut keningku. Isak tangis mengiringinya, meski ia mencoba untuk menahan, namun sesekali air matanya jatuh mengalir membasahi pipinya.

"INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI'UN" bisik lembut ayah ditelinga tubuhku.

Lagi lagi aku terkaget. Kali ini bagai disambar petir, apa benar aku telah meninggal. Kini tubuh dihadapan mereka adalah jasadku, dan aku yang menyaksikan semua ini adalah rohku. Roh terakhirku. Lalu, kapankah aku merasakan shakaratul maut?, apa mungkin karena terlalu menyakitkannya sehingga aku lupa dengan kejadian itu.
Astagfiirullah, kejadian ini begitu cepat, bahkan aku belum sempat mengucap taubat. Terlebih banyak dosa yang aku telah lakukan terhadap ibundaku.
"Maafkan aku ibu, maafkan atas segala dosaku" aku berbisik di telinga ibu. entah, apa ibu dapat mendengarnya. Aku memeluk tubuh ibu, namun kini hangatnya tidak dapat kurasa.
semua telah siap, bangku-bangku berjejer rapih didepan rumahku, bendera kuning berkibar layu ditiang rumahku. Mereka semua disana, saudara-saudaraku, sahabat, dan temanku. Mata mereka merah saga, terlihat menahan sedih.
Kali ini ayah menggendongku, dengan menahan sedihnya ia mencoba untuk tetap tenang menghadapi yang terjadi. Ia membawa jasadku ditempat pemandian mayat. Ayah mengguyur seluruh tubuhku dengan air, rasanya begitu dingin menyentuh kulit tubuhku. Setelah dirasa semua sudah cukup bersih, ayah menyumbat kedua lubang hidungku dengan kapas, begitu juga dengan kedua lubang telingaku. semua sudah benar-benar rapat tertutup kapas. Saatnya jasadku dililit dengan kain kafan, kain yang menjadi pakaian terakhirku.
Teringat saat itu, saat dimana aku memaksa ibu untuk membelikan pakaian yang mahal dan mampu membuatku bergaya. Namun nyatanya semua itu kini sudah tidak berguna sama sekali. Untuk apa membeli pakaianterlalu mahal, jika kelak mati kain kafanlah yang menjadi pakaian terakhirmu.
Setelah jasadku dikafani, kini saatnya untuk di shalatkan. Hal yang paling membuatk menangis. Menyesal aku sering meninggalkan kewajibanku itu. Terkadang aku sering tidak memperdulikan panggilan sholat. Saat adzan berkumandang aku lebih sibuk dengan kegiatan duniaku. Beberapa kali aku mengerjakan perintah ALLAH SWT itu, tentu lebih banyak lagi aku meninggalkannya.

"lailahaillallah... la ilahaillallah,.."
Lafadz Allah mengiringi jasadku menuju tempat terakhirku. Aku masih menyaksikan itu, menyaksikan masa-masa terakhirku berada didunia. Masa dimana jasadku mulai dikembalikan kepada sang pencipta, Allah Subhanahu Wata'ala.
Aku mulai dikebumikan, dalam tanah berukuran 2xi meter. Jasadku dimasukkan ke dalam liang lahat itu. Kemudian ditutup dengan papan dan kemudian dikubur dengan tanah. Kini aku mulai merasa sendiri, dalam keadaan yang sangat mencengkam, bahkan kini mulai terasa dingin, gelap, dan sunyi.
Tiada apapun yang menemaniku, bahkan gadget yang menjadi teman mainku, barang barang elektronik yang menjadi penghiburku. Sudah tidak ada lagi. hanya diriku sendiri brsama amal ibadahku. Ustad telah selesai membaca do'a nya. Terdengan jejak kaki yang mulai menjauh meninggalkanku.
Siap menghadapi sesuatu yang mesti aku terima. Berhadapan dengan malaikat Munkar dan Nakir yang akan bertanya amal ibadahku. Aku berteriak kuat. Aku terbangun dari tidurku dalam tengah malam yang sunyi. Terpaksa terbangun karna mimpi yang menakutkan. Keringat mulai bercucuran di seluruh tubuhku. Mimpi itu benar-benar terasa begitu nyata. Astagfirullah, aku mengucap istigfar beberapa kali. Menyaksikan pemandangan mimpi. Mimpi kematian memang begitu cepat.
Bukankah kematian itu memang begitu dekat bahkan lebih dekat dari nafasku.  Bila saja Allah memanggil diriku kapan saja, tanpa diduga dan waktu yang direncanakan. Tentunya aku tidak bisa mengelak dan memungkiri takdir itu. Hanya saja aku belum siap dengan dosa yang telah ku lakukan. Tapi itu semua rahasia yang Illahi yang sama sekali manusia tidak mengetahuinya. Huallah hualam..
Aku segera membangunkan diriku untuk beranjak ke kamar mandi mengambil air wudhu dan melakukan sholat tahajud, aku ingin berlama lama merenungi semua ini bercinta dengan sang khalik. Allah Subhanalahu Wata'ala.

"Ya Allah, jika kau ingin mengambil hambamu ini. Semoga hamba mati dalam keadaan bertaubat padamu, dan dalam keadaan mati yang khusnul khotimah. Amin ya Rabbal alamin." ucapku di penghujung sujud.

Sesungguhnya tidak ada yang tahu akan datangnya kematian. Setiap orang akan menghadapi yang namanya kematian. jangan sampai nantinya kita termasuk orang-orang yang dipanggil Allah dalam keadaan kafir. Nauzubillahi Mindzalik..Semoga dalam keadaan khusnul khotimah dan dalam perlindungan di jalan Allah. Amin..Amin..Aminn ya Rabbal alamin.

#KISS' edisi 4